Kamis, 28 November 2013

Resensi Novel 12 MENIT

Resensi Novel 12 MENIT
by:Rini Widyastuti

12 Menit
by Oka Aurora
Judul : 12 Menit
Pengarang : Oka Aurora
Penerbit : Noura Books
Tebal : xiv + 348 halaman
Cetakan : Pertama, Mei 2013
ISBN : 978-602-7816-33-6

"Kerja keras, semangat dan selalu berpikir positif akan selalu mengalahkan segala hambatan, dan kemenangan adalah hadiah tak tertolak yang pantas diterima karenanya"

Novel ini terinspirasi dari sebuah kisah nyata. Tentang sebuah semangat pantang menyerah dari sekelompok anak muda.
Bagaimana sebuah semangat, kerja keras dan doa akan selalu menghasilkan buah yang manis. Bagaimana sebuah keyakinan yang kuat akan selalu menghasilkan hasil yang gilang gemilang tanpa menafikkan hambatan mental maupun fisik yang menghalangi anak-anak muda ini.
Novel ini berkisah
tentang perjuangan keras anak-anak Marching Band PKT
Bontang binaan Pabrik Pupuk Kaltim yang telah sukses tampil di kejuaraan daerah maupun internasional.
Mungkin kita heran kenapa judul novel ini 12 menit untuk selamanya? kenapa bukan 5 menit misalnya atau satu jam sekalian?
Kenapa 12 menit? Ya, ternyata karena waktu
sebanyak 12 menit lah yang  ternyata memiliki sebuah filosofi. Adalah  12 menit waktu yang diperlukan oleh sebuah marching band untuk menunjukkan penampilannya dalam mengikuti kejuaraan,
Jadi bisa dibilang, hanya terletak di 12 menit inilah, "kehormatan" mereka sebagai kelompok dipertaruhkan, kebanggaan dan nama baik daerah kecil mereka diperjuangkan, dan di 12 menit inilah mereka menunjukkan eksistensi dan kerja keras mereka di mata masyarakat luas
.Di 12 menit ini mereka membuktikan kebenaran akronim nama daerah mereka,  bond adalah kumpulan atau ikatan persaudaraan dan tang artinya pendatang, menjadi sebuah prestasi membanggakan karena kekompakan persaudaraan sedaerah itu sendiri. Mereka rela mengorbankan segalanya, termasuk berlatih ribuan jam hanya demi 12
menit penentuan di penampilan apik mereka. Amazing!
Hasilnya memang luar biasa, Bontang PKT berhasil menyabet juara sebanyak 10 kali di
kejuaraan nasional
GPMB (Grand Prix Marching Band),
sebuah kejuaraan nasional Marching
Band yang diadakan tiap tahun di
Istora Senayan, juga meraih kejayaan  di
kejuaraan internasional. Whew...sangat membanggakan bukan?
Sebagai pembanding kita masih ingat novel dan film fenomenal yang banyak memenangkan penghargaan juga hati masyarakat Indonesia juga dunia? Yap,  laskar pelangi nya Andrea Hirata,  yang gigih memperkenalkan daerah asalnya Belitong.... maka senada dengan semangat Andrea,  Oka sang penulis yang ibu dari 3 anak ini juga mengenalkan suatu daerah kecil tapi dengan semangat masyarakatnya yang besar juga pemerintah daerahnya yang peduli. Oka berharap melalui novelnya, selain mengetengahkan semangat dan kerja keras yang bisa memenangkan apa saja, juga dapat membuka
pengetahuan masyarakat luas  tentang kehidupan
warga di Bontang, yaitu suatu daerah di Indonesia yang kecil tapi terkaya di Indonesia karena hasil gas alam dan amoniaknya yang melimpah.
Kembali ke inti novel ini yaitu semangat, kenapa Si penulis kita ini begitu concern dengan masalah semangat di debut novelnya? Ya karena dengan selalu bersemangat kita akan bisa mengalahkan apa saja. Sekali lagi....apa saja. Dengan semangat kita bisa mengalahkan hambatan diri yang selalu menghalangi. Dan apa yang dinarasikan Oka dalam 12 menit bagus sekali....dengan hambatan begitu besar,  entah dari pribadi atau kelompok, sebuah marching band yang notebene adalah kumpulan anak muda yang galibnya hanya mendasarkan tindakannya pada emosi semata. Semangat memang oke, apalagi fisik yang masih prima-primanya, tapi masih sangat labil, mudah berubah, disitulah letak tantangan sebenarnya,  bagaimana bisa tetap menjaga semangat,  terutama di 12 menit kritis dalam penampilan mereka di lapangan.
Novel dan juga diikuti dengan filmnya, 12 menit ini,  sangat baik dan bisa memberikan
sisi pembelajaran positif kepada masyarakat, so harus didukung penuh oleh
segenap kalangan.
Novel ini berisi cerita orang-orang yang tak
pernah takut meraih mimpi, semustahil apapun mimpi itu,  tak ada yang tak mungkin.
Novel ini juga bertaburan kata-kata
inspiratif yang membangun jiwa tapi sekaligus juga menyelipkan humor cerdas. Sangat entertaining juga mencerahkan...
. Mereka bertekad
membuktikan pada dunia bahwa tidak ada hal yang mustahil di dunia ini sepanjang semangat dan kerja keras dijaga.
Bravo!:

Selasa, 19 November 2013

Share photos and updates with Rini

facebook
Rini is sharing photos, updates and more on Facebook. Sign up to stay in touch with Rini and all the people you care about.
Rini Widyastuti
137 friends · 4 notes · 3 groups
Sign Up
Go to Facebook
This message was sent to riwid93.blueprincess@blogger.com. If you don't want to receive these emails from Facebook in the future or have your email address used for friend suggestions, please unsubscribe.
Facebook, Inc., Attention: Department 415, PO Box 10005, Palo Alto, CA 94303

Minggu, 03 November 2013

Check out Rini's photos on Facebook.

facebook
Check out Rini's photos on Facebook.
If you sign up for Facebook, you'll be able to stay connected with friends by seeing their photos and videos, staying up to date with their latest status updates, exchanging messages and more.
Join Rini on Facebook
This message was sent to riwid93.blueprincess@blogger.com. If you don't want to receive these emails from Facebook in the future or have your email address used for friend suggestions, please unsubscribe.
Facebook, Inc., Attention: Department 415, PO Box 10005, Palo Alto, CA 94303

Sabtu, 06 Juli 2013

Poems

Senja Dengan Tanya
by Riwidy

Senjaku penuh tanya
Adakah besok bahagia?
Atau nestapa?
Persiapkan mental baja
Tuk hadapi Semua
Ceria Saja......

Jumat, 08 Februari 2013

Diary

Hepi jg bingung
Banyak yg hrs diurus
Banyak yg hrs dipelajari
.....but keep on moving
.....semangat !

Diary

Hepi jg bingung
Banyak yg hrs diurus
Banyak yg hrs dipelajari
.....but keep on moving
.....semangat !

Kamis, 03 April 2008

SEKILAS NOVEL 1 KU "KRIWIL VS LOVE"

EPISODE TIGA

Malam minggu itu Kriwil termenung sendiri di dalam kamar kostnya, sambil sesekali membaca buku-buku yang menumpuk di sampingnya, lalu kembali mengetik cerpen bahasa inggris di PC kesayangannya sambil bersenandung mengikuti irama lagu superman dari five for fighting yang mengalun dari radio tape bututnya.
……………………………………
“I can’t stand to fly, I’m not that naïve”
“Men weren’t mean to ride”
“With clouds between their knees”
“I’m only a man in a silly red sheet”
“Digging for kryptonite on this one way street”
“Only a man in a funny red sheet”
“Looking for special things inside of me”
“Inside of me….inside of me…”
“Inside of me….inside of me…”
…………………………………
Kriwil menggaruk-garuk kepalanya yang gatal sambil mengguman pelan….
“Duh, nasibku jadi jomblo…, cowok-cowok teman kost pada ngapel di rumah pacarnya masing-masing, aku malah pacaran sama komputer dan radio mulu….Yah, sutralah..bener kata five for fighting, I’m only a man who looking for special things inside of me…Wil. ….o,iya nih naskah harus sudah kukirim senin lusa…semangat!!” Kriwil lalu kembali merenung, membuka buku, dan mengetik lagi…
***
Hari Senin, jam 8 pagi, di perpustakaan kampus yang luas, lengkap, dan sejuk karena ber-AC, Didi menghampiri mbak Netty, petugas perpustakaan ayu yang duduk anggun di kursi putarnya. Tanpa basa-basi, Didi langsung memprotes,
“Mbak Netty, buku English Grammar itu dimana ya? itu kan sudah saya pesan dari dua minggu yang lalu, siapa sih yang minjam? Lama banget, soalnya saya perlu banget untuk membuat makalah kuliah bahasa inggris nih…”tanya Didi kesal.
“Ya, abis gimana dong mbak, buku itu ada tiga kopian, tapi yang satu sudah rusak, jadi pensiun, yang satu dipinjam asisten dosen, yang satu lagi dipinjam mahasiswa, belum ada yang kembali, mungkin teman seangkatan mbak kali yang pinjam, untuk membuat makalah yang sama, buku itu memang termasuk high quality book. Sabar aja, mbak, atau mbak bisa beli dari toko buku kan?”jawab mbak Netty, petugas perpus dengan sabar dan tetap anggun.
Tiba-tiba dari arah belakang Didi, Kriwil membawa buku English Grammar yang dicari-cari Didi, lalu dengan cueknya menaruh di meja mbak Netty, sambil berkata,
“Maaf mbak, telat ngembaliin, jadi dendanya berapa mbak?”
“Sebentar ya, mas Kriwil, saya lihat di buku dulu…ehmm masa pinjam seminggu, telat tiga minggu, berarti enam kali tiga kali seratus, seribu delapan ratus mas..”jawab mbak Netty kenes.
“Mbak, ini lo buku yang mbak cari tadi, kalo sabar, pasti kembali kan, untung pas mas Kriwil ngembaliin ”kata mbak Netty pada Didi yang masih kesal itu.
Didi melirik buku itu, dia kaget, antara senang buku yang dicarinya ketemu, tapi sekaligus gondog banget ada makhluk sejenis itu yang pinjam buku sampai sebulan, Didi lalu mengalihkan pandangannya ke cowok disebelahnya itu, dia kaget..”lho ini kan cowok berambut mie kesayangan Sinta itu ya ,namanya Kriwil to…tapi…ah, peduli amat, aku sebel banget padanya, tapi ih hidungnya bangir lo, wajahnya ternyata memang mirip ma Ello…duh.Ah, aku kan mau marah, malah jadi mikir gini…”batin Didi dengan roman muka yang berubah-rubah.
Sambil mengeluarkan uangnya, Kriwil melirik cuek ke arah Didi, dia rada heran, kenapa muka cewek itu berubah-rubah seperti monitor komputer di rumahnya. Kriwil memperhatikan cewek itu, dia berkata dalam hati “wah, rambut cewek ini pendek banget kaya rambut Demmi Moore ya, manis juga…..”
Belum selesai lamunan Kriwil, tiba-tiba cewek itu membentaknya dengan suara lirih tapi mantap….
”Eh, tolong ya mas, lain kali kalo pinjam buku itu jangan dimonopoli sendiri, yang lain kan juga butuh meminjam, makalah aku jadinya berantakan nih, mana besuk harus dikumpulin lagi, dua minggu nyari buku ini, ga ketemu-ketemu juga!” kata Didi seperti nenek-nenek kehilangan gigi palsunya.
“Eh, mbak, jangan sembarangan marah-marah dong. Yang butuh buku ini kan banyak, aku juga butuh untuk nyelesaiin tugas kuliahku, juga untuk menulis bukuku, lagian aku kuliah di sastra inggris, so pasti butuh buku ini lah. “jawab Kriwil ikutan marah-marah seperti kakek-kakek kehilangan tongkatnya (jadi, mereka seperti sepasang kakek nenek cerewet dong? He he )
Mbak Netty kelihatan bingung, hilang sudah keanggunannya, dia berusaha melerai ” sudah mas, mbak, jangan bertengkar di sini, ini kan perpustakaan, tidak boleh ngobrol apalagi bertengkar, nanti pak Jarwo marah lo, lagian mbak, bukunya kan sudah kembali, beres to mbak?”
Didi tidak menghiraukan kata-kata Mbak Netty, dia terus ngomel,
“Eh, maaf ya , tapi apa anda itu tidak diajarin orang tua anda untuk bertenggang rasa, bersopan santun, ini kan perpustakaan kampus, mas, kalo anda memang butuh buku ini untuk waktu lama, apa ga sebaiknya memfotokopi atau membeli buku ini di toko buku, itu kan lebih masuk akal?” tandas Didi keras.
“Eh, apa hak anda ngatur-ngatur gimana aku mendapatkan buku….?lagian jangan bawa-bawa orangtua dalam hal ini, nggak nyambung tau? Anda anak kuliahan baru ya? Tampak dari muka anda yang culun dan tingkah anda yang nggak tau aturan itu………….”jawab Kriwil keras.
“Eh, apa maksud anda…….”Didi kehilangan kata-kata.
Tiba-tiba Pak Jarwo, kepala perpustakaan keluar dari ruangannya, baliau kelihatan marah dan berujar pelan tapi tandas,
“Hey, kamu berdua…..kalo mau pacaran, jangan masalah kalian dibawa ke sini, sana keluar!”, lalu Pak Jarwo masuk lagi.
“Siapa yang pacaran, pak!” protes Kriwil dan Didi hampir berbarengan, mereka lalu berpandangan sebentar lalu melengos lagi.
Kriwil cepat bisa mengendalikan dirinya, lalu dengan cuek berujar,
“Sudah Mbak Netty, bukunya ga jadi aku kembaliin, biar aja lusa aku kembaliin, ga ada angin, ga ada hujan, ada nenek sihir marah-marah…..peduli amat sama makalahnya”kata Kriwil sambil mengambil buku itu dan pergi.
Didi dan Mbak Netty pun terbengong-bengong.
***
Didi dengan kesalnya balik ke kelasnya, dia nemuin Sinta lagi sibuk ngganti catatan., sambil nunggu jam kuliah berikutnya. Sinta heran melihat muka manis tapi cemberut punya Didi, ga biasa-biasanya cewek itu bermuka masam, biasanya cuek dan tidak pedulian. Sinta bertanya,
“Ada apa Didi sayang, kenapa mula lu tekuk ampe lima lipatan gitu, ntar ga bisa kembali, lo, ga ada setlika tuk muka tau?”
“Basi kamu….,aku lagi bete banget nih, nyari buku English Grammar seperti yang disuruh pak Andika 2 minggu yang lalu, ga ketemu-ketemu, malah ketemu makhluk gila di perpus” jawab Didi sambil menghempaskan bokong indahnya di bangku.
“Ya ampyun, Di, gue kan punya buku itu, kenapa ga pinjam ma gue?”
“Hah, kamu punya buku itu, kog bisa Sin? Biasanya kamu kan ga pernah ngurusin buku-buku, apalagi punya” teriak Didi ga percaya.
“Nah, lu tuh, sukanya ngremehin orang mulu, jelek-jelek gini, kalo buku penting gitu, gue usahain untuk beli sendiri…tugas lu belum kelar ya?…kecian deh lu!”ejek Sinta
“Sialan, jadi sia-sia dong aku marah-marah sama orang gila tadi diperpus,…duh nambah-nambahin musuh aja.”sesal Didi
“Dari tadi nyebut orang gila siapa sih, emang orang gila bisa masuk kampus?” Sinta bertanya dengan polosnya
“Ya itu, cowok berambut kriting kesukaan lu itu, yang kita lihat dari kantin minggu lalu”
“Hah,….cowok lucu itu…., ya ampyun, kenapa lu ga manggil gue tadi…duh, buruan gue lepas lagi nih, eh tapi kenapa lu marah sama dia?” cerocos Sinta
“Karena dia yang minjam buku itu selama satu bulan, aku kan kesel dan emosi, bolak-balik ke perpus ga ketemu buku itu…trus, dia kumarahi…” kata Didi
“Lu itu, tetep emosi aja dibawa-bawa….lain kali jangan gitu dong, sayang kan dapat kenalan kakak kelas cakep gitu dianggurin, trus dia kasih buku itu ke lu?”
“Karena dia marah, dia ambil lagi bukunya, ga jadi dikembaliiin….”
“Nah lo, kena batunya lu…tu kan, rugi kalo emosi diduluin, kalo gue di posisi lu, pasti gue ngajak kenalan, minjam buku itu, minta nomer hp, trus ngedate deh..he he…”Sinta berpikir sejenak”Tapi dia cakep beneran kan, namanya lu tau ga Di?”
“Ngga, jelek kog….emang mirip-mirip Ello sih, tapi jauh lebih kurus dan tinggi, juga item. Namanya Kriwil “jawab Didi sambil menguap.”Tapi aku minjem bukumu ya, Sin ntar sore aku ke rumahmu”
“Oke, deh.”
***